April 17, 2011

Kenapa aku mahu menikah?


Kenapa aku mahu menikah?
  1. Melaksanakan Suruhan Allah. (Surah an-nisa’)
  2. Melaksanakan Sunnah Rasulullah
  3. Memperbaiki kehidupan
  4. Mencari suasana baru
  5. Ingin memiliki tanggung-jawab
  6. Hati semakin tenang dengan adanya isteri dan anak
Allah Ta’ala berfirman,
 “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)

7. Memperbanyak ummat Rasulullah shollahu ‘alaihi wa sallam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Menikahlah kalian. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.

8. Menjauhi segala efek buruk seperti zina mata, zina hati, zina pendengaran, zina perkataan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi anak Adam bahagiannya dari zina, pasti akan menjumpainya. Maka zinanya mata adalah dengan melihat (yang bukan mahramnya), zinanya lisan adalah bicaranya, dan zinanya jiwa adalah angan-angan dan berkeinginannya, sedangkan farji membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari: 20/283))

9. Menjauhi zina yang sesungguhnya, waliya’uzubillah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra`: 32)


Syubhat atau masalah yang selalu dilontarkan ketika seseorang ingin menikah:

  1. Syubhat: Masyarakat kita sekarang memandang pernikahan menyebabkan ramai pelajar gagal dalam pelajaran ataupun tidak dapat menyelesaikan pengajian mereka.
Jawapan: Sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah pernikahan tersebut, fakta yang saya baca dari akhbar tempatan dan saya dengar dari kawan-kawan yang sedang melanjutkan pengajian mereka di universiti tempatan mahupun di luar, ramai dari mahasiswa menara gading yang tidak menikah namun gagal dalam pelajaran mereka dan tidak menyelesaikan pengajian mereka akibat pacaran, melepak, pergi ke disko, minum arak dan bahkan ada yang sampai menghisap dadah, wali’yauzubillah (semoga kita dijauhkan dari hal-hal tersebut)
Justeru dengan pernikahan itu insyaAllah semua hal negatif tersebut dapat dielakkan atau setidaknya diminimalkan. Waktu kosong yang biasanya digunakannya melepak bersama kawan-kawannya setelah menikah digunakan untuk bersama isteri dan anak-anaknya.
Ingatlah hadith Rasulullah: “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR.at-Tirmidzi, no. 1655 dan an-Nasa-I, no. 3120)
Di Universiti Islam madinah ini, saya melihat kawan-kawan yang sudah menikah mereka nampak lebih dewasa, bertanggung-jawab dan lebih mampu untuk meraih mumtaz kerana ada dorongan untuk mengerjakan perkerjaan mereka.

2. Syubhat: Seseorang yang ingin menikah akan dibebankan untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Maka hal itu secara tidak langsung akan menganggu fokusnya dalam belajar.
Jawapan: Adakah anda yakin dengan firman Allah?
Allah berfirman: “ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud: 6).
Siapakah anda untuk meragukan apa yang dikatakan Allah? Yakin lah bahawa Allah tidak akan membiarkan anda dan keluarga anda miskin kelaparan dan kebuluran lebih-lebih lagi anda sedang melaksanakan apa yang disuruh Allah dan RasululNya! Tidak cukupkah jaminan Allah dalam firmanNya
 “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nur: 32).
Saya melihat kawan-kawan saya di Universiti Islam Madinah, dengan pelbagai cubaan dan dugaan yang mereka hadapi, alhamdulillah saya tak pernah dengar berita ada yang sampai mati kelaparan sebab tak makan satu bulan, ataupun selama bertahun-tahun tidak mendapatkan tempat tinggal. Memang akal kita tak akan mampu sampai bagaimana kuasa Allah membahagikan rezekinya kepada hamba-hambaNya.
Suatu kali pernah kawan saya (sudah berkahwin dan mempunyai satu anak) kehabisan beras dan lauk-pauk, dia memohon kepada Allah dan tanpa pernah terbenak di fikirannya ada muhsinin (penderma) yang memberikannya satu ekor kambing dan beras beserta keperluan rumah cukup untuk dua bulan. Siapa sangka? Memang kita tidak selamanya menadah tangan kita meminta-minta, tapi ini hanyalah satu contoh bahawa Allah tidak akan membiarkan hambaNya yang melaksanakan suruhanNya.

Untuk sementara ini mungkin ini sahaja tulisan saya, insyaAllah akan akan saya sambung lagi dalam tulisan berikutnya “Kenapa aku mahu menikah 2?”.
Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahawa janganlah menikah awal itu yang dipersalahkan atas kegagalan seseorang dalam melanjutkan pelajarannya. Rasulullah shollahu’alaihi wasallam menganjurkan nikah bagi para pemuda, bahkan wajib hukumnya yang merasa tidak dapat menahan nafsunya. Di zaman yang penuh dengan fitnah ini, pada pendapat saya peribadi hampir semua pemuda sudah wajib bagi mereka untuk menikah.
Sebelum menutup tulisan ini, akan saya gambarkan sebuah ilustrasi sebagai contoh. Pada suatu hari seorang pemuda yang telah terlanjur menghamili pacarnya berjumpa dengan ayahnya yang terkenal sebagai seorang ustaz di tempat tinggalnya. Sebagai seorang ustaz pasti ayahnya akan malu dengan masyarakat di sekitarnya di samping merasakan kegagalannya sebagai ayah membimbing anaknya.
Baginya tidak cukupkah pendidikan agama yang ditanamkan kepada anaknya selama ini? Mengapa sampai hal ini dapat terjadi? Nasi sudah menjadi bubur, usut punya usut rupa-rupanya sudah 4 tahun yang lalu anaknya meminta untuk menikah kerana dia tahu akan batas kemampuannya menahan nafsu. Namun, atas alasan masih belajar dan harus menyelesaikan S1 di universiti, ibu-bapanya tidak memberi restu.
Siapa yang salah? Dua-dua salah. Pastinya alasan ibu-bapanya: “Tak cukupkah aku menanamkan dalam dirinya agama?” anaknya menjawap senang sahaja: “Hatta orang yang kuat imannya pun dapat tergoda dengan fitnah wanita, inikan pula aku.”
Bahkan nabi Yusuf  ‘alaihis-salam sempat tergoda dengan Zulaikha jika tidak kerana peringatan dari Allah maka Nabi Yusuf ‘alaihis-salam akan terjurumus ke dalam godaan itu (baca surah Yusuf-red). Beliau adalah nabi, inikan pula kita?
Siapa yang letakkan syarat harus S1 itu? Siapa yang letakkan syarat harus ada kerja dulu? Sungguh dengan banyaknya pertimbangan-pertimbangan seperti inilah maka anak-anak muda sekarang berada dalam dilema, sedangkan mereka pada hakikatnya sedang berusaha untuk melaksanakan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shollahu’alaihi wasallam.

Wallahu’alam bishowab.

Universiti Islam Madinah
18/04/2011
02:31 AM

0 comments:

الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك