January 23, 2012

Menjadi diri sendiri..

Memang penting untuk mencontohi kebaikan-kebaikan oleh kawan sekeliling kita, kadang-kadang kita dibuat kagum oleh kebolehan beberapa teman dalam pergaulan, dalam berpidato, dalam kepimpinan, dalam berorganisasi dan lain-lain.

Adakalanya juga kerana  hal-hal tersebut rasa tidak percaya diri kita timbul, rasa rendah diri dan selalu merasa disisihkan. Akibatnya kita ingin diri kita juga dihormati dan dikagumi seperti mana orang lain, akhirnya jalan yang ditempuh adalah mencuba untuk menjadi orang lain.

Memang baik untuk mencontohi kawan-kawan yang mempunyai sesuatu kebolehan, tapi apa yang tidak baiknya adalah secara tidak sedar kita mencuba untuk menjadi orang lain.

Permata tetaplah permata, di mana ia berada ia akan tetap permata, ia tidak akan pernah mencuba untuk menjadi batu-batu biasa yang lain, inilah yang membezakan antara orang yang hebat dan tidak. Sebaliknya batu biasa tetaplah hanya sebutir batu dari sekian banyaknya batu.

Kiasan diatas diibaratkan antara orang yang berilmu dan orang yang hanya ikut-ikutan. Kata ustaz ku di Gontor dulu; ‘menjadi kepala ikan bilis lebih baik daripada menjadi ekor ikan hiu’.

Kita haruslah mempunyai sebuah prinsip atau sebuah pegangan yang membezakan kita dengan orang lain.
Orang yang merasa dirinya rendah, tidak berguna dan selalu merasa disisihkan oleh sekelilingnya akan berusaha untuk menampakkan dirinya antara lingkungannya, namun cara yang digunakan kadang-kadang bersifat negatif, dengan cara merendahkan orang lain ataupun meremehkannya.

Adakah cara ini berkesan? Ya ia berkesan, sesaat sahaja tapi setelah itu pada hakikatnya ia menampakkan kelemahannya dirinya sendiri.

Seperti yang dikatakan tadi, permata tetaplah permata, ia tidak kisah dengan apa yang dilakukan oleh orang lain. Secara tidak sedar, suatu hari nanti akan terbukti siapa yang benar dan siapa yang salah.
Sejauh mana seseorang dalam mengawal emosinya, sehebat itu jugalah dirinya. Orang yang kerjanya hanya menghina dan merendahkan orang lain tidak akan maju dan akan selalu terhina dan direndahkan oleh lingkungannya sendiri.

Mengalah bukan bererti kalah, kesabaran diperlukan dalam pergaulan, tapi adakalanya kita harus bersikap tegas, dengan segala resiko yang akan terjadi, namun ini adalah pembuktian sikap ‘pertengahan’ dalam menyikapi suatu permasalahan.

Kata pepatah arab yang bermaksud, “janganlah engkau terlalu lembut sehingga kau mudah di bengkokkan, dan janganlah engkau terlalu keras sehingga engkau mudah dipatahkan”

Ayahku selalu berpesan: “jika seseorang menyakitimu, biarkan ia melakukannya, sesungguhnya ia tidak hanya melakukan hal itu kepadamu, tapi ia telah melakukannya kepada teman-temannya yang lain, dan tidak mungkin satu orang pun dari mereka tidak membalasnya. Serahkan permasalahan tersebut kepada Allah! Dia maha adil.”

Semoga Allah selalu membimbing kita ke arah kebenaran, dan memberikan kita kekuatan dalam mengharung cabaran hidup ini dan mengumpulkan kita bersama para Rasul, Nabi dan sahabat-sahabatnya di Firdausnya nanti. Amin

Madinah, 23/01/2012
02:48 PM

0 comments:

الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك